G
N
I
D
A
O
L

Dosen Prodi RIO Unpatti Pimpin Riset LPDP Rp1,19 Miliar Kembangkan Teknologi Deteksi Dini Kanker Paru

Ambon – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Otomasi (RIO), Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Pattimura. Salah satu dosen Prodi RIO, Ronaldo Talapessy, S.Si., M.Sc., Ph.D., memimpin penelitian strategis nasional yang memperoleh pendanaan sebesar Rp1,19 miliar dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema pendanaan riset nasional kompetitif.

Penelitian yang berjudul “Pengembangan Prototipe Alat Deteksi Kanker Paru Berbasis Suseptibilitas Biomagnetik (Biomagnetic Susceptibility)” ini bertujuan mengembangkan teknologi deteksi dini kanker paru berbasis instrumentasi biomagnetik. Dukungan pendanaan tersebut memungkinkan pengembangan prototipe hingga mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 6, yang menunjukkan bahwa teknologi telah berhasil didemonstrasikan dalam lingkungan yang relevan.

Prototipe SM 1.0

Dalam penelitian ini, Ronaldo Talapessy memimpin tim yang beranggotakan Dr. Estevanus K. Huliselan, S.Pd., M.Si., Prof. Dr. Pieter Kakisina, S.Pd., M.Si., dan Dr. Ivonne Telussa, S.Si., M.Si.. Pelaksanaan riset dilakukan melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Ambon, Provinsi Maluku, sebagai mitra penelitian dalam mendukung pengembangan teknologi deteksi dini penyakit berbasis instrumentasi biomagnetik.

Penelitian ini berangkat dari meningkatnya kasus kanker paru di Indonesia serta kebutuhan akan metode skrining yang mampu mendukung deteksi dini secara lebih cepat, noninvasif, dan berpotensi lebih terjangkau. Melalui pendekatan pengukuran suseptibilitas biomagnetik, tim peneliti mengembangkan sistem instrumentasi yang mampu mengukur perubahan sifat magnetik material sebagai dasar pengembangan teknologi skrining kanker paru.

Salah satu capaian utama penelitian adalah keberhasilan mengembangkan SM 1.0, sebuah prototipe instrumen pengukuran suseptibilitas biomagnetik yang telah berfungsi secara operasional. Prototipe tersebut telah melalui proses kalibrasi dan validasi metrologi, dengan hasil pengukuran yang menunjukkan kesesuaian terhadap instrumen acuan. Capaian ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan teknologi menuju tahap implementasi yang lebih luas.

Selama pelaksanaan penelitian, tim juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari proses perancangan instrumen, integrasi sistem, hingga tahapan validasi. Namun, seluruh target penelitian berhasil diselesaikan sesuai dengan roadmap yang telah direncanakan, sehingga menghasilkan luaran yang menjadi pijakan bagi pengembangan teknologi pada tahap berikutnya.

Bagi Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Otomasi (RIO), keberhasilan penelitian ini mencerminkan komitmen dosen dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya memperkuat pengembangan ilmu instrumentasi, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi sektor kesehatan. Riset ini sekaligus menunjukkan bahwa kompetensi di bidang rekayasa instrumentasi memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan teknologi medis yang inovatif dan berdampak bagi masyarakat.

Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi instrumentasi biomagnetik di Indonesia melalui kolaborasi yang lebih luas dengan institusi kesehatan, pemerintah, dan industri. Capaian tersebut juga semakin memperkuat posisi Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Otomasi Universitas Pattimura sebagai program studi yang aktif mendorong riset unggulan, inovasi teknologi, dan kolaborasi multidisiplin dalam menjawab tantangan pembangunan di bidang kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 − 1 =